Selasa, 24 Februari 2026

Jejak Digital Penyu Melalui Pemanfaatan Teknologi Tracking dalam Memantau Migrasi Chelonia mydas

 

Gambar 1. Penyu laut dengan transmitter (Paladino & Morreale, 2001)

Penyu hijau (Chelonia mydas) adalah spesies migratori laut yang melakukan perjalanan jarak jauh antara habitat foraging (pencarian makanan), area inter-nesting (istirahat antar-bertelur), dan situs bertelur, sering kali melintasi ribuan kilometer (Tanabe et al., 2023; Al-Mansi et al., 2021). Migrasi ini dipengaruhi oleh faktor biologis seperti jenis kelamin dan tahap hidup, serta faktor lingkungan seperti arus laut dan suhu (Beal et al., 2022; Barbour et al., 2023). Pemahaman mendalam tentang pola migrasi ini sangat penting untuk konservasi, karena membantu mengidentifikasi habitat kritis dan ancaman antropogenik seperti degradasi habitat atau interaksi dengan perikanan (Robinson et al., 2017; Sudrajat et al., 2023).

Teknologi tracking satelit merupakan metode utama untuk memantau migrasi penyu secara akurat dan real-time tanpa mengganggu perilaku alami mereka (Tapilatu et al., 2022; Tanabe et al., 2023). Teknologi ini bekerja dengan memasang transmitter satelit (Platform Transmitter Terminal atau PTT) pada karapas (cangkang) penyu menggunakan resin fiberglass atau epoksi khusus yang aman dan minim drag (Al-Mansi et al., 2021; Barbour et al., 2023). Transmitter ini dilengkapi dengan saltwater switch yang mengaktifkan transmisi hanya saat penyu muncul ke permukaan untuk bernapas, karena gelombang radio tidak menembus air laut (Tanabe et al., 2023). Data dikirim ke satelit Argos atau dikombinasikan dengan Fastloc-GPS untuk akurasi tinggi (sering <50 meter), sehingga peneliti bisa merekam tidak hanya rute migrasi, tetapi juga kedalaman menyelam, suhu air, dan pola penggunaan habitat (Barbour et al., 2023; Al-Mansi et al., 2021).

Penyu dewasa betina biasanya melakukan migrasi pasca-bertelur yang jauh lebih panjang dibandingkan jantan, dengan jarak rata-rata mencapai lebih dari 1.000 km pada beberapa individu, sementara jantan cenderung bermigrasi lebih pendek meskipun habitat foraging sering tumpang tindih (Beal et al., 2022). Selama periode inter-nesting, pergerakan relatif terbatas di perairan dangkal dekat pantai bertelur, dengan luas area jelajah maksimum sekitar 161 km² (Tanabe et al., 2023). Penyu juga menunjukkan kemampuan navigasi luar biasa: mereka sering berenang melawan arus untuk mempertahankan arah yang diinginkan, dan persistensi berenang meningkat saat mendekati wilayah pantai atau menjelang akhir perjalanan (Barbour et al., 2023).

Teknologi tracking juga berhasil diterapkan pada penyu remaja yang dibesarkan di penangkaran (head-started) sebelum dilepasliarkan, serta pada penyu yang telah direhabilitasi setelah mengalami cedera serius. Penyu-penyu ini mampu beradaptasi kembali ke alam liar dan bahkan melakukan perjalanan jarak sangat jauh, membuktikan bahwa upaya reintroduksi dapat berhasil jika timing dan lokasi pelepasan tepat (Robinson et al., 2017; Barbour et al., 2023). Di habitat foraging, penyu cenderung memilih perairan dangkal dengan vegetasi laut melimpah, sementara degradasi pantai dapat menyebabkan penurunan drastis jumlah penyu yang berhasil bertelur (Dharmadi & Wiadnyana, 2008; Romiyansah et al., 2024).

Jejak digital yang dihasilkan teknologi tracking satelit tidak hanya mengungkap pola migrasi secara mendetail, tetapi juga menjadi dasar strategi konservasi yang lebih tepat sasaran. Data ini mendukung pembentukan kawasan lindung kecil namun strategis di area inter-nesting, identifikasi koridor migrasi lintas negara, dan analisis kekuatan serta peluang pelestarian berbasis bukti (Sudrajat et al., 2023; Tanabe et al., 2023; Al-Mansi et al., 2021).

 

Ditulis Oleh: Amanda Jasmine dan Syifa Putri Azzahra


Daftar Pustaka

Paladino, F. V., & Morreale, S. J. (2001). Sea Turtles. Encyclopedia of Ocean Sciences: Second Edition, 212–219. https://doi.org/10.1016/B978-012374473-9.00443-4

 Al-Mansi, A. M., et al. (2021). Satellite tracking of post-nesting green sea turtles (Chelonia mydas) from Ras Baridi, Red Sea. Frontiers in Marine Science, 8, 758592. https://doi.org/10.3389/fmars.2021.758592

Barbour, N., et al. (2023). Satellite tracking of head-started juvenile green turtles (Chelonia mydas) reveals release effects and an ontogenetic shift. Animals, 13(7), 1218. https://doi.org/10.3390/ani13071218

Beal, M., et al. (2022). Satellite tracking reveals sex-specific migration distance in green turtles (Chelonia mydas). Biology Letters, 18(10), 20220325. https://doi.org/10.1098/rsbl.2022.0325

Dharmadi, & Wiadnyana, N. N. (2008). Kondisi habitat dan kaitannya dengan jumlah penyu hijau (Chelonia mydas) yang bersarang di Pulau Derawan, Berau-Kalimantan Timur. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia, 14(3), 195–204.

Robinson, D. P., et al. (2017). Satellite tagging of rehabilitated green sea turtles Chelonia mydas from the United Arab Emirates, including the longest tracked journey for the species. PLOS ONE, 12(9), e0184286. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0184286

Romiyansah, et al. (2024). Sebaran sarang penyu hijau (Chelonia mydas) di Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (KKP3K) Paloh Desa Sebubus Kabupaten Sambas. Oseanologia, 3(2), 44–59.

Sudrajat, I., et al. (2023). Strategi pelestarian penyu hijau (Chelonia mydas) di Suaka Margasatwa Sindangkerta, Tasikmalaya. Jurnal Ilmiah Satya Minabahari, 8(2), 43–55. https://doi.org/10.53676/jism.v8i2.166

Tanabe, L. K., et al. (2023). Inter-nesting, migration, and foraging behaviors of green turtles (Chelonia mydas) in the central-southern Red Sea. Scientific Reports, 13, 11322. https://doi.org/10.1038/s41598-023-37942-z

Tapilatu, R. F., et al. (2022). Foraging habitat characterization of green sea turtles, Chelonia mydas, in the Cenderawasih Bay, Papua, Indonesia: Insights from satellite tag tracking and seagrass survey. Biodiversitas, 23(6), 2783–2789. https://doi.org/10.13057/biodiv/d230601

 

 

Senin, 23 Februari 2026

Dampak Mikroplastik Terhadap Penyu Laut Sebagai Ancaman Tersembunyi di Lautan

            Kerusakan kawasan pantai terjadi akibat penumpukan material alami maupun aktivitas manusia di wilayah pesisir dan berlangsung di sepanjang garis pantai di berbagai belahan dunia. Beragam jenis material dapat dijumpai di kawasan pantai, mulai dari makrofita laut dan sisa kayu hingga limbah hasil aktivitas manusia, seperti kemasan sekali pakai dan alat tangkap ikan berbahan plastik. Ketika bahan plastik memasuki lingkungan laut, mereka menjadi ancaman bagi kehidupan laut. Mikroplastik merupakan partikel plastik berukuran sangat kecil, umumnya kurang dari 5 mm, yang berasal dari degradasi plastik berukuran besar maupun dari produk plastik primer seperti pelet industri dan bahan abrasif. Partikel ini bersifat persisten di lingkungan laut karena sulit terurai secara alami, sehingga dapat bertahan dalam jangka waktu lama dan tersebar luas di perairan. Keberadaan mikroplastik di laut menjadi perhatian serius karena mudah tertelan oleh organisme laut, termasuk penyu, dan berpotensi menimbulkan dampak ekologis yang signifikan (Gesamp, 2015).
  1. Sumber dan Jalur Masuk Mikroplastik ke Laut

Mikroplastik adalah fragmen plastik berukuran sangat kecil dengan diameter kurang dari 5 mm yang berasal dari dua sumber utama, yaitu mikroplastik primer dan mikroplastik sekunder. Mikroplastik primer merupakan partikel plastik yang sejak awal diproduksi dalam ukuran kecil, seperti pelet plastik industri, mikrogranula kosmetik, dan bahan abrasif. Sementara itu, mikroplastik sekunder terbentuk akibat fragmentasi plastik berukuran besar melalui proses fisik, kimia, dan biologis, seperti paparan sinar ultraviolet, oksidasi, serta abrasi mekanik oleh gelombang laut (Nelms et al., 2016).


Gambar 1. Mikroplastik (BBC News Indonesia, 2017)

Mikroplastik di laut berasal dari degradasi plastik berukuran besar seperti kantong plastik, botol, dan alat tangkap nelayan, serta dari limbah rumah tangga dan aktivitas industri. Proses degradasi ini dipicu oleh paparan sinar ultraviolet, gelombang laut, dan abrasi mekanik yang memecah plastik menjadi partikel kecil. Mikroplastik kemudian masuk ke lingkungan laut melalui sungai, limpasan darat akibat hujan, serta aktivitas pariwisata pesisir yang menghasilkan sampah plastik dalam jumlah besar (Thompson et al., 2004).

Akumulasi mikroplastik umumnya terjadi di wilayah pesisir sebelum tersebar ke laut terbuka oleh arus laut. Keberadaan mikroplastik ini berdampak langsung terhadap penyu laut karena partikel tersebut mudah tertelan saat penyu mencari makan, terutama ketika mikroplastik menyerupai mangsa alaminya seperti ubur-ubur. Mikroplastik yang tertelan dapat menyebabkan gangguan saluran pencernaan, penurunan asupan nutrisi, serta membawa zat toksik yang berpotensi membahayakan kesehatan dan kelangsungan hidup penyu laut (Schuyler et al, 2014).


  1. Interaksi Penyu Laut dengan Mikroplastik

Penyu laut rentan terhadap paparan mikroplastik terutama akibat perilaku makannya. Beberapa jenis penyu, seperti penyu hijau Chelonia mydas dan penyu belimbing Dermochelys coriacea, memiliki kebiasaan mengkonsumsi organisme lunak seperti ubur-ubur dan zooplankton. Mikroplastik yang mengapung di kolom perairan sering kali menyerupai mangsa alami tersebut, sehingga mudah tertelan secara tidak sengaja saat penyu mencari makan. Berbagai jenis penyu laut dilaporkan rentan terhadap konsumsi mikroplastik, termasuk penyu hijau, penyu sisik Eretmochelys imbricata, dan penyu lekang Lepidochelys olivacea. Kerentanan ini dipengaruhi oleh perbedaan habitat dan jenis pakan yang dikonsumsi, terutama pada wilayah pesisir dan perairan dangkal yang memiliki konsentrasi mikroplastik relatif tinggi (Duncan et al., 2019).

Tahapan hidup penyu juga mempengaruhi tingkat risiko paparan mikroplastik. Penyu pada fase juvenil cenderung lebih rentan dibandingkan individu dewasa karena habitatnya yang berada di perairan permukaan dan pesisir, serta keterbatasan kemampuan dalam menyeleksi makanan. Akumulasi mikroplastik pada tahap awal kehidupan berpotensi menyebabkan gangguan pertumbuhan, kesehatan, dan kelangsungan hidup penyu dalam jangka panjang (Clukey et al., 2017).


  1. Dampak Fisiologis dan Kesehatan Mikroplastik pada Penyu Laut

Mikroplastik yang tertelan oleh penyu laut dapat menyebabkan gangguan pada sistem pencernaan, mulai dari iritasi jaringan hingga penyumbatan saluran cerna. Akumulasi partikel plastik di dalam tubuh penyu berpotensi menimbulkan rasa kenyang semu, yang menghambat proses pencernaan dan penyerapan makanan. Kondisi ini dapat berdampak pada penurunan kondisi fisik dan meningkatkan risiko kematian, terutama pada individu dengan ukuran tubuh lebih kecil (Wright et al., 2013).

Gambar 2. Dampak Mikroplastik pada Penyu Laut (Darilaut.Id, 2018) 


Selain mengganggu pencernaan, konsumsi mikroplastik juga menyebabkan penurunan asupan nutrisi. Penyu yang menelan mikroplastik cenderung mengurangi konsumsi makanan alami karena ruang saluran cerna terisi oleh partikel plastik. Akibatnya, energi yang diperoleh tidak mencukupi untuk mendukung pertumbuhan, aktivitas, dan proses fisiologis penting lainnya. Dampak fisiologis mikroplastik juga mencakup penurunan fungsi sistem imun. Akumulasi mikroplastik dan zat toksik yang dibawanya dapat melemahkan respons imun penyu laut, sehingga meningkatkan kerentanan terhadap infeksi bakteri, virus, dan parasit. Penurunan imunitas ini sangat berbahaya bagi penyu yang hidup di lingkungan tercemar atau mengalami stres tambahan akibat perubahan suhu dan degradasi habitat (Pham et al., 2017).

Selain itu, mikroplastik diketahui dapat mengganggu sistem endokrin penyu laut. Mikroplastik sering mengandung atau mengadsorpsi bahan kimia berbahaya seperti bisphenol A (BPA), ftalat, dan polychlorinated biphenyls (PCB) yang bersifat endocrine disrupting chemicals. Paparan senyawa ini dapat mengganggu regulasi hormon, termasuk hormon pertumbuhan, hormon reproduksi, dan hormon metabolik, sehingga berpotensi menyebabkan gangguan perkembangan dan penurunan kesuburan (Jamaika et al., 2023). Mikroplastik juga berpotensi mempengaruhi fungsi organ vital penyu laut. Partikel mikroplastik dapat berpindah dari saluran pencernaan ke organ lain seperti hati, ginjal, dan jaringan otot melalui sistem peredaran darah. Akumulasi mikroplastik di organ-organ tersebut dapat mengganggu fungsi detoksifikasi hati, filtrasi ginjal, serta efisiensi kerja jaringan otot, yang berdampak pada kemampuan berenang dan migrasi penyu laut (Rochman et al., 2013). 

Dampak-dampak Mikroplastik tersebut tidak selalu menyebabkan kematian langsung, namun secara bertahap menurunkan kondisi kesehatan, kebugaran, kemampuan migrasi, dan keberhasilan reproduksi penyu laut. Dalam jangka panjang, penurunan kualitas fisiologis individu ini berpotensi mengurangi tingkat kelangsungan hidup populasi penyu laut dan mempercepat penurunan populasinya, sehingga mikroplastik menjadi ancaman tersembunyi yang serius bagi keberlanjutan spesies penyu dan keseimbangan ekosistem laut (Andrady., 2011).



Ditulis Oleh: Aida Sayidatunnisa, Safanja Salsabilla

Daftar Pustaka


Andrady, A. L. (2011). Microplastics in the marine environment. Marine Pollution Bulletin, 62(8), 1596–1605.

BBC News, Indonesia. (2017, 22 November). Bagaimana plastik membunuh berbagai ikan, hewan-hewan laut, juga burung. BBC News Indonesia. Diakses dari https://www.bbc.com/indonesia/majalah-42061728.

Clukey, K. E., Lepczyk, C. A., Balazs, G. H., Work, T. M., & Lynch, J. M. (2017). Investigation of plastic debris ingestion by four species of sea turtles collected as bycatch in pelagic Pacific longline fisheries. Marine Pollution Bulletin, 120(1–2), 117–125.

Darilaut.id. (2018, 14 September). Plastik yang mematikan. Dari Laut. Diakses dari https://darilaut.id/berita/laporan-khusus/plastik-yang-mematikan.

Duncan, E. M., Broderick, A. C., Fuller, W. J., et al. (2019). Microplastic ingestion is ubiquitous in marine turtles. Global Change Biology, 25(2), 744–752.

GESAMP. (2015). Sources, fate and effects of microplastics in the marine environment: A global assessment (Reports and Studies No. 90). IMO.

Jamika, F. I., Dewata, I., Maharani, S., Primasari, B., & Dewilda, Y. (2023). Dampak pencemaran mikroplastik di wilayah pesisir laut. Jurnal Sumberdaya Akuatik Indopasifik, 7(3), 337–344.

Nelms, S. E., Duncan, E. M., Broderick, A. C., et al. (2016). Plastic and marine turtles: A review and call for research. ICES Journal of Marine Science, 73(2), 165–181.

Pham, C. K., Rodríguez, Y., Dauphin, A., Carriço, R., Frias, J. P. G. L., Vandeperre, F., Otero, V., Santos, M. R., Martins, H. R., Bolten, A. B., & Bjorndal, K. A. (2017). Plastic ingestion in oceanic-stage loggerhead sea turtles (Caretta caretta) off the North Atlantic subtropical gyre. Marine Pollution Bulletin, 121(1–2), 222–229. https://doi.org/10.1016/J.MARPOLBUL.2017.06.008. 

Rochman, C. M., Hoh, E., Kurobe, T., & Teh, S. J. (2013). Ingested plastic transfers hazardous chemicals to fish and induces hepatic stress. Scientific reports, 3(1), 3263.

Schuyler, Q. A., Hardesty, B. D., Wilcox, C., & Townsend, K. (2014). Global analysis of anthropogenic debris ingestion by sea turtles. Conservation Biology, 28(1), 129–139. 

Thompson, R. C., Olsen, Y., Mitchell, R. P., Davis, A., Rowland, S. J., John, A. W., ... & Russell, A. E. (2004). Lost at sea: where is all the plastic?. Science, 304(5672), 838-838.

Wright, S. L., Thompson, R. C., & Galloway, T. S. (2013). The physical impacts of microplastics on marine organisms: A review. Environmental Pollution, 178, 483–492.