Rabu, 25 Februari 2026

SURVEY MONITORING PENYU DI PULAU PRAMUKA DAN PULAU KARYA KEPULAUAN SERIBU, JAKARTA

 

    Kegiatan survei dan monitoring penyu di Pulau Pramuka Kepulauan Seribu dilakukan oleh Keisha Alayya Balqis, Hanifah Rifqoh Putri Sanjaya, dan Syifa Putri Azzahra yang dilaksanakan mulai tanggal 27 Juni - 1 Juli 2025. Pemandu lapangan yang mendampingi kami selama survey dan pengambilan data Di Pulau Pramuka adalah Pak Akon. Pak Akon selama ini menjadi sosok sentral dalam upaya konservasi penyu di Pulau Pramuka. Pak Akon merupakan warga lokal Pulau Pramuka yang awalnya berprofesi sebagai nelayan. Sejak tahun 1989, beliau mulai terlibat aktif dalam konservasi penyu setelah mendapat kesempatan belajar bersama NGO asal Jepang. Saat ini, Pak Akon juga bekerja dan mengelola kegiatan di pusat santuari (sanctuary) penyu Pulau Pramuka yang dikelola oleh Taman Nasional Kepulauan Seribu, serta menjadi salah satu dari sedikit orang yang memiliki pengetahuan mendalam mengenai perilaku penyu di Kepulauan Seribu. Dalam setiap kegiatan monitoring, Pak Akon kerap didampingi oleh Pak Ocol, yang masih dalam tahap belajar. Namun hingga saat ini, Pak Akon tetap menjadi satu-satunya pemantau utama yang secara rutin melakukan pengamatan penyu di Pulau Pramuka.


Pola Kemunculan dan Aktivitas Penyu

    Berdasarkan hasil monitoring lapangan, penyu diketahui cenderung naik ke pantai pada hari Selasa, Kamis, dan Sabtu, terutama pada awal bulan Desember. Aktivitas monitoring umumnya dilakukan pada malam hari, yaitu pukul 22.00 hingga 02.00 dini hari, waktu yang dianggap paling efektif untuk meminimalkan gangguan dari aktivitas manusia.

    Selain malam hari, terdapat pula beberapa kejadian penyu yang naik ke pantai pada pukul 06.00–07.00 pagi, yang diduga terjadi karena penyu sudah tidak dapat menahan dorongan untuk bertelur. Dalam praktik lapangan, kehadiran burung pricik sering dijadikan penanda alami bahwa penyu akan naik ke pantai.

    Jenis penyu yang sering muncul di pantai Pulau Pramuka adalah Penyu sisik yang naik untuk bertelur pada bulan Juli hingga September, namun tingkat keberhasilan penelurannya kerap terganggu oleh predasi biawak terhadap telur. Meski demikian, secara umum aktivitas peneluran dan kemunculan penyu di Pulau Pramuka dari tahun ke tahun masih tergolong stabil.


Kondisi Peneluran dan Penanganan Telur

    Dalam penanganan telur penyu, terdapat prinsip penting yang selalu diterapkan oleh pemantau, yaitu telur tidak boleh ditanam dalam kondisi terbalik, karena dapat menghambat perkembangan embrio. Untuk meningkatkan peluang hidup tukik, telur yang menetas biasanya dirawat terlebih dahulu, dan tukik dipelihara selama 2–3 bulan sebelum dilepasliarkan ke laut agar lebih kuat dan mampu beradaptasi. Selama monitoring, juga ditemukan kasus penyu albino berukuran besar yang kemudian dilakukan upaya penyelamatan (rescue), karena berisiko tinggi diburu oleh masyarakat.


Tantangan Konservasi

    Hasil survei menunjukkan bahwa praktik perdagangan telur penyu masih berlangsung, dengan alasan sebagai obat tradisional. Telur penyu tidak hanya berasal dari Pulau Pramuka, tetapi juga didatangkan dari Pulau Kelapa. Selain itu, pernah terjadi kasus penyembelihan penyu yang sedang bertelur dengan berat sekitar 12 kg yang dilakukan ketika malam hari atau dini hari. Banyak kasus bahwa penyu terjerat jaring nelayan sehingga berdampak pada kesehatan penyu bahkan penyu dapat mengalami cacat fisik, sehingga pihak setempat merehabilitasi penyu tersebut si Sentuari Pulau Pramuka. Meskipun kasus tersebut telah dilaporkan, penanganan dari pihak berwenang tidak dilakukan secara cepat.



    Pengambilan penyu diketahui melibatkan laki-laki dan perempuan. Di Pulau Karya, pelaku berasal dari kedua gender. Di Pulau Pramuka sendiri, pelaku didominasi oleh laki-laki. Dibandingkan pulau lain, Pulau Tidung dilaporkan memiliki tingkat pembunuhan penyu yang lebih tinggi.


Temuan Lokasi Spesifik

    Di Pulau Pramuka, tepatnya di lokasi Pantai Sunrise dan Seribu Resort, kami menemukan empat lubang mandi penyu serta jejak penyu, meskipun tidak terlihat terlalu jelas yang berada di Pantai Sunrise. Selain itu, ditemukan juga dua lubang peneluran di Seribu Resort yang kemudian diamankan oleh warga sekitar.


    Sementara itu, di Pulau Karya tidak ditemukan adanya penyu naik, bertelur, lubang peneluran, maupun jejak penyu selama survei dilakukan.


Penutup

    Hasil survei ini menunjukkan bahwa Pulau Pramuka masih memiliki potensi sebagai lokasi peneluran penyu, namun tekanan dari aktivitas manusia dan praktik ilegal menjadi ancaman nyata. Peran sentuari penyu serta keterlibatan individu seperti Pak Akon menjadi elemen penting dalam menjaga keberlangsungan penyu di Kepulauan Seribu. Diperlukannya juga kesadaran masyarakat setempat akan pentingnya penyu bagi kehidupan. Dukungan dari berbagai pihak sangat dibutuhkan juga keterlibatan generasi muda demi kelangsungan konservasi penyu agar upaya konservasi penyu di Pulau Pramuka dapat terus berjalan dan memberikan dampak jangka panjang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar