Gambar 1. Penyu laut dengan transmitter
Penyu hijau (Chelonia mydas) adalah
spesies migratori laut yang melakukan perjalanan jarak jauh antara habitat
foraging (pencarian makanan), area inter-nesting (istirahat antar-bertelur),
dan situs bertelur, sering kali melintasi ribuan kilometer (Tanabe et al.,
2023; Al-Mansi et al., 2021). Migrasi ini dipengaruhi oleh faktor biologis
seperti jenis kelamin dan tahap hidup, serta faktor lingkungan seperti arus
laut dan suhu (Beal et al., 2022; Barbour et al., 2023). Pemahaman mendalam
tentang pola migrasi ini sangat penting untuk konservasi, karena membantu
mengidentifikasi habitat kritis dan ancaman antropogenik seperti degradasi
habitat atau interaksi dengan perikanan (Robinson et al., 2017; Sudrajat et
al., 2023).
Teknologi tracking satelit
merupakan metode utama untuk memantau migrasi penyu secara akurat dan real-time
tanpa mengganggu perilaku alami mereka (Tapilatu et al., 2022; Tanabe et al.,
2023). Teknologi ini bekerja dengan memasang transmitter satelit (Platform
Transmitter Terminal atau PTT) pada karapas (cangkang) penyu menggunakan resin
fiberglass atau epoksi khusus yang aman dan minim drag (Al-Mansi et al., 2021;
Barbour et al., 2023). Transmitter ini dilengkapi dengan saltwater switch yang
mengaktifkan transmisi hanya saat penyu muncul ke permukaan untuk bernapas,
karena gelombang radio tidak menembus air laut (Tanabe et al., 2023). Data
dikirim ke satelit Argos atau dikombinasikan dengan Fastloc-GPS untuk akurasi
tinggi (sering <50 meter), sehingga peneliti bisa merekam tidak hanya rute
migrasi, tetapi juga kedalaman menyelam, suhu air, dan pola penggunaan habitat
(Barbour et al., 2023; Al-Mansi et al., 2021).
Penyu dewasa betina biasanya
melakukan migrasi pasca-bertelur yang jauh lebih panjang dibandingkan jantan,
dengan jarak rata-rata mencapai lebih dari 1.000 km pada beberapa individu,
sementara jantan cenderung bermigrasi lebih pendek meskipun habitat foraging
sering tumpang tindih (Beal et al., 2022). Selama periode inter-nesting,
pergerakan relatif terbatas di perairan dangkal dekat pantai bertelur, dengan
luas area jelajah maksimum sekitar 161 km² (Tanabe et al., 2023). Penyu juga
menunjukkan kemampuan navigasi luar biasa: mereka sering berenang melawan arus
untuk mempertahankan arah yang diinginkan, dan persistensi berenang meningkat
saat mendekati wilayah pantai atau menjelang akhir perjalanan (Barbour et al.,
2023).
Teknologi tracking juga berhasil
diterapkan pada penyu remaja yang dibesarkan di penangkaran (head-started)
sebelum dilepasliarkan, serta pada penyu yang telah direhabilitasi setelah
mengalami cedera serius. Penyu-penyu ini mampu beradaptasi kembali ke alam liar
dan bahkan melakukan perjalanan jarak sangat jauh, membuktikan bahwa upaya
reintroduksi dapat berhasil jika timing dan lokasi pelepasan tepat (Robinson et
al., 2017; Barbour et al., 2023). Di habitat foraging, penyu cenderung memilih
perairan dangkal dengan vegetasi laut melimpah, sementara degradasi pantai
dapat menyebabkan penurunan drastis jumlah penyu yang berhasil bertelur
(Dharmadi & Wiadnyana, 2008; Romiyansah et al., 2024).
Jejak digital yang dihasilkan
teknologi tracking satelit tidak hanya mengungkap pola migrasi secara
mendetail, tetapi juga menjadi dasar strategi konservasi yang lebih tepat
sasaran. Data ini mendukung pembentukan kawasan lindung kecil namun strategis
di area inter-nesting, identifikasi koridor migrasi lintas negara, dan analisis
kekuatan serta peluang pelestarian berbasis bukti (Sudrajat et al., 2023;
Tanabe et al., 2023; Al-Mansi et al., 2021).
Ditulis
Oleh: Amanda Jasmine dan Syifa Putri Azzahra
Daftar
Pustaka
Paladino, F. V., &
Morreale, S. J. (2001). Sea Turtles. Encyclopedia of Ocean Sciences: Second
Edition, 212–219. https://doi.org/10.1016/B978-012374473-9.00443-4
Al-Mansi, A. M., et al. (2021). Satellite
tracking of post-nesting green sea turtles (Chelonia mydas) from Ras
Baridi, Red Sea. Frontiers in Marine Science, 8, 758592. https://doi.org/10.3389/fmars.2021.758592
Barbour, N., et al. (2023). Satellite tracking
of head-started juvenile green turtles (Chelonia mydas) reveals release
effects and an ontogenetic shift. Animals, 13(7), 1218. https://doi.org/10.3390/ani13071218
Beal, M., et al. (2022). Satellite tracking
reveals sex-specific migration distance in green turtles (Chelonia mydas).
Biology Letters, 18(10), 20220325. https://doi.org/10.1098/rsbl.2022.0325
Dharmadi, & Wiadnyana, N. N. (2008).
Kondisi habitat dan kaitannya dengan jumlah penyu hijau (Chelonia mydas)
yang bersarang di Pulau Derawan, Berau-Kalimantan Timur. Jurnal Penelitian
Perikanan Indonesia, 14(3), 195–204.
Robinson, D. P., et al. (2017). Satellite
tagging of rehabilitated green sea turtles Chelonia mydas from the
United Arab Emirates, including the longest tracked journey for the species. PLOS
ONE, 12(9), e0184286. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0184286
Romiyansah, et al. (2024). Sebaran sarang penyu
hijau (Chelonia mydas) di Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau
Kecil (KKP3K) Paloh Desa Sebubus Kabupaten Sambas. Oseanologia, 3(2),
44–59.
Sudrajat, I., et al. (2023). Strategi
pelestarian penyu hijau (Chelonia mydas) di Suaka Margasatwa
Sindangkerta, Tasikmalaya. Jurnal Ilmiah Satya Minabahari, 8(2), 43–55.
https://doi.org/10.53676/jism.v8i2.166
Tanabe, L. K., et al. (2023). Inter-nesting,
migration, and foraging behaviors of green turtles (Chelonia mydas) in
the central-southern Red Sea. Scientific Reports, 13, 11322. https://doi.org/10.1038/s41598-023-37942-z
Tapilatu, R. F., et al. (2022). Foraging
habitat characterization of green sea turtles, Chelonia mydas, in the
Cenderawasih Bay, Papua, Indonesia: Insights from satellite tag tracking and
seagrass survey. Biodiversitas, 23(6), 2783–2789. https://doi.org/10.13057/biodiv/d230601
Tidak ada komentar:
Posting Komentar