Selasa, 24 Februari 2026

Perspektif Budaya Tentang Penyu dalam Kehidupan Komunitas radisional

 Simbolisme penyu

Penyu merupakan salah satu satwa peninggalan dari zaman purba 110 juta tahun silam yang berhasil melewati zaman purba dan sampai saat ini masih terdapat di dunia termasuk juga di wilayah Indonesia. Keberlangsungan hidup penyu dalam rentang waktu yang sangat panjang menunjukkan kemampuan adaptasi yang luar biasa, menjadikannya simbol ketahanan dan kesinambungan kehidupan. Penyu dalam berbagai tradisi budaya, khususnya dalam filsafat Nusantara, dimaknai sebagai simbol umur panjang, ketahanan dan kesabaran, serta keseimbangan alam.

Gambar 1. Monitoring Penyu Laut (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

  1. Umur panjang

Umur panjang penyu, yang seringkali hidup selama beberapa dekade, melambangkan kehidupan yang panjang dan sejahtera. Karakteristik ini tercermin dalam berbagai legenda dan praktik budaya yang memaknai penyu sebagai pengingat pentingnya menjalani kehidupan secara tenang, penuh pertimbangan, dan tidak tergesa-gesa, melainkan mengikuti ritme yang bijaksana.

  1. Ketahanan dan kesabaran

Sifat penyu yang lambat dan tenang dipandang sebagai metafora untuk menghadapi tantangan dan bertahan melalui kesulitan, mencerminkan keyakinan yang mendalam bahwa kekuatan sejati terletak bukan pada tergesa-gesa tetapi pada kemampuan untuk melewati cobaan hidup dengan anggun dan tenang. Simbolisme tersebut menegaskan nilai kesabaran sebagai kebajikan utama yang sejalan dengan nilai-nilai tradisional Nusantara,  di mana keharmonisan komunal dan penghormatan terhadap ritme alam sangatlah penting.

  1. Keseimbangan

Kemampuan penyu untuk hidup di dua lingkungan yaitu darat dan laut, menjadikannya simbol keseimbangan dan harmoni dalam alam semesta. Dualitas ini dimaknai sebagai pengingat akan pentingnya menjaga keselarasan antara manusia, alam, dan tatanan kosmos agar keberlanjutan kehidupan tetap terjaga.

 

Peran Penyu dalam Kehidupan Sosial dan Budaya

  1. Penyu dalam ritual adat, upacara keagamaan, dan tradisi

Di komunitas pesisir seperti di Pantai Teluk Penyu Cilacap, tradisi sedekah laut adalah ritual tahunan yang biasa dilakukan para nelayan sebagai wujud rasa syukur atas rezeki dari laut sekaligus permohonan agar selalu diberi keselamatan saat melaut. Kegiatan ini biasanya diisi dengan doa bersama, arak-arakan, lalu melarung sesajen ke laut yang dipercaya bisa membawa berkah, rasa aman, serta menjaga hubungan harmonis antara manusia, alam, dan kekuatan gaib penguasa laut. Tradisi ini sudah diwariskan turun-temurun dan masih dijaga sampai sekarang. Selain punya makna religius, sedekah laut juga punya fungsi sosial yang kuat karena melibatkan banyak orang, sehingga bisa mempererat kebersamaan, rasa solidaritas, dan kekompakan antar anggota masyarakat pesisir.

  1. Makna Penyu dalam Struktur Sosial: Status, Identitas & Kebanggaan Budaya

Dalam budaya tradisional, penyu tidak hanya dipandang sebagai hewan laut, tetapi juga sebagai simbol yang memiliki makna filosofis yang mendalam. Dalam konteks budaya Nusantara, penyu melambangkan ketahanan, kesabaran, umur panjang, serta keseimbangan alam, yang mencerminkan nilai-nilai sosial yang dijunjung tinggi oleh masyarakat dalam menjalani kehidupan bersama dan menjaga hubungan yang harmonis antara manusia, alam, dan leluhur. Makna simbolis ini kemudian diwujudkan dalam berbagai ekspresi budaya, seperti cerita rakyat, praktik adat, serta karya seni tradisional. Bentuk penyu juga kerap digunakan sebagai motif dalam seni dan kerajinan, misalnya pada batik atau ornamen lokal, yang tidak hanya berfungsi sebagai elemen estetis, tetapi juga sebagai representasi identitas budaya dan kedekatan masyarakat dengan lingkungan laut.

Selain memiliki makna simbolis, penyu juga berperan dalam pembentukan status sosial dan kebanggaan kolektif dalam komunitas tertentu. Penyu sering diproyeksikan sebagai simbol kawasan pesisir atau identitas suatu komunitas, sehingga kehadirannya dalam ritual adat, cerita asal-usul, maupun simbol budaya menjadi sumber kebanggaan bersama. Melalui praktik budaya yang berkaitan dengan penyu, baik dalam upacara adat maupun representasi seni—terbentuk narasi kolektif tentang asal-usul komunitas, hubungan dengan alam, serta nilai-nilai yang dijunjung bersama. Narasi ini berperan penting dalam memperkuat kohesi sosial, rasa kebersamaan, dan identitas budaya masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun.

 

Hubungan Budaya Tradisional dengan Konservasi Penyu di Era Modern

Dalam kehidupan masyarakat tradisional, penyu sejak lama dipandang sebagai makhluk yang punya makna khusus dan dianggap penting dalam menjaga keseimbangan alam. Nilai budaya yang menekankan hidup selaras dengan alam ini sebenarnya sejalan dengan upaya konservasi penyu di masa sekarang. Seiring meningkatnya kesadaran lingkungan dan adanya aturan perlindungan satwa, pandangan masyarakat terhadap penyu pun mulai berubah. Penyu tidak lagi hanya dipahami sebagai simbol budaya atau bagian dari ritual, tetapi juga sebagai hewan yang harus dijaga kelestariannya. Hal ini terlihat dari keterlibatan masyarakat pesisir dalam kegiatan konservasi, seperti menjaga sarang penyu, membantu penetasan telur, dan ikut dalam edukasi lingkungan. Dengan begitu, budaya tradisional bisa menjadi dasar yang kuat untuk mendukung upaya pelestarian penyu secara berkelanjutan.

 

Perubahan dan Tantangan antara Tradisi Budaya dan Perlindungan Penyu

Meskipun budaya tradisional sering mengajarkan hidup berdampingan dengan alam, dalam praktiknya tidak jarang muncul konflik antara kebiasaan lama dan aturan perlindungan penyu. Pada masa lalu, di beberapa daerah penyu dimanfaatkan untuk kebutuhan hidup, seperti diambil daging atau telurnya, dan hal ini dianggap wajar dalam tradisi setempat. Namun, ketika jumlah penyu semakin berkurang dan penyu mulai dilindungi oleh hukum, praktik tersebut harus dihentikan. Kondisi ini membuat masyarakat perlu menyesuaikan diri dan mengubah cara pandang mereka terhadap penyu. Tradisi yang sebelumnya melibatkan pemanfaatan langsung mulai bergeser menjadi bentuk perlindungan dan penghormatan simbolis. Perubahan ini menunjukkan bahwa budaya tidak bersifat kaku, tetapi bisa menyesuaikan dengan keadaan, terutama ketika menyangkut kelestarian alam dan keberlanjutan kehidupan bersama.

 

 

Ditulis oleh: Farrel Sulthan S. R., Lilis Fauziah Agustin, Talitha Athaillah Sanjaya


Daftar Pustaka

Cahyani, I. A. F., Cahyana, A., & Falah, A. M. (2021). Motif Batik Penyu Sukabumi dan simbolisme penyu dalam seni budaya lokal.

Hamidah, S., & Samosir, J. V. (2025). The Symbolism of the Turtle in Nusantara Philosophy and its Relevance for Local Wisdom-Based Tourism. Digital Press Social Sciences and Humanities, 12, 00012.

Hidayat, A. Z. (2024). Tradisi Sedekah Laut di Pantai Teluk Penyu sebagai ritual religius & sosial masyarakat pesisir. Journal of Social Movements.

Kadir, S., & Satria, A. (2019). Kearifan lokal masyarakat pesisir dalam mendukung konservasi sumber daya laut. Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan, 14(1), 1–12.

Lestari, D., & Handayani, S. (2018). Peran masyarakat lokal dalam konservasi penyu berbasis kearifan lokal. Jurnal Ilmu Lingkungan, 16(2), 123–132.

The Symbolism of the Turtle in Nusantara Philosophy — simbol budaya & nilai lokal dalam tradisi masyarakat pesisir Indonesia.

Wallace, B. P., et al. (2011). Global conservation priorities for marine turtles. PLoS ONE, 6(9), e24510.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar