Simbolisme penyu
Penyu merupakan salah satu satwa peninggalan dari zaman purba 110 juta tahun silam yang berhasil melewati zaman purba dan sampai saat ini masih terdapat di dunia termasuk juga di wilayah Indonesia. Keberlangsungan hidup penyu dalam rentang waktu yang sangat panjang menunjukkan kemampuan adaptasi yang luar biasa, menjadikannya simbol ketahanan dan kesinambungan kehidupan. Penyu dalam berbagai tradisi budaya, khususnya dalam filsafat Nusantara, dimaknai sebagai simbol umur panjang, ketahanan dan kesabaran, serta keseimbangan alam.
- Umur panjang
Umur panjang penyu, yang seringkali
hidup selama beberapa dekade, melambangkan kehidupan yang panjang dan
sejahtera. Karakteristik ini tercermin dalam berbagai legenda dan praktik
budaya yang memaknai penyu sebagai pengingat pentingnya menjalani kehidupan
secara tenang, penuh pertimbangan, dan tidak tergesa-gesa, melainkan mengikuti
ritme yang bijaksana.
- Ketahanan dan kesabaran
Sifat penyu yang lambat dan tenang
dipandang sebagai metafora untuk menghadapi tantangan dan bertahan melalui
kesulitan, mencerminkan keyakinan yang mendalam bahwa kekuatan sejati terletak
bukan pada tergesa-gesa tetapi pada kemampuan untuk melewati cobaan hidup
dengan anggun dan tenang. Simbolisme tersebut menegaskan nilai kesabaran
sebagai kebajikan utama yang sejalan dengan nilai-nilai tradisional
Nusantara, di mana keharmonisan komunal
dan penghormatan terhadap ritme alam sangatlah penting.
- Keseimbangan
Kemampuan penyu untuk hidup di dua
lingkungan yaitu darat dan laut, menjadikannya simbol keseimbangan dan harmoni
dalam alam semesta. Dualitas ini dimaknai sebagai pengingat akan pentingnya
menjaga keselarasan antara manusia, alam, dan tatanan kosmos agar keberlanjutan
kehidupan tetap terjaga.
Peran Penyu dalam Kehidupan Sosial
dan Budaya
- Penyu dalam ritual adat,
upacara keagamaan, dan tradisi
Di komunitas pesisir seperti di
Pantai Teluk Penyu Cilacap, tradisi sedekah laut adalah ritual tahunan yang
biasa dilakukan para nelayan sebagai wujud rasa syukur atas rezeki dari laut
sekaligus permohonan agar selalu diberi keselamatan saat melaut. Kegiatan ini
biasanya diisi dengan doa bersama, arak-arakan, lalu melarung sesajen ke laut
yang dipercaya bisa membawa berkah, rasa aman, serta menjaga hubungan harmonis
antara manusia, alam, dan kekuatan gaib penguasa laut. Tradisi ini sudah
diwariskan turun-temurun dan masih dijaga sampai sekarang. Selain punya makna
religius, sedekah laut juga punya fungsi sosial yang kuat karena melibatkan
banyak orang, sehingga bisa mempererat kebersamaan, rasa solidaritas, dan
kekompakan antar anggota masyarakat pesisir.
- Makna Penyu dalam Struktur
Sosial: Status, Identitas & Kebanggaan Budaya
Dalam budaya tradisional, penyu
tidak hanya dipandang sebagai hewan laut, tetapi juga sebagai simbol yang
memiliki makna filosofis yang mendalam. Dalam konteks budaya Nusantara, penyu
melambangkan ketahanan, kesabaran, umur panjang, serta keseimbangan alam, yang
mencerminkan nilai-nilai sosial yang dijunjung tinggi oleh masyarakat dalam
menjalani kehidupan bersama dan menjaga hubungan yang harmonis antara manusia,
alam, dan leluhur. Makna simbolis ini kemudian diwujudkan dalam berbagai
ekspresi budaya, seperti cerita rakyat, praktik adat, serta karya seni
tradisional. Bentuk penyu juga kerap digunakan sebagai motif dalam seni dan
kerajinan, misalnya pada batik atau ornamen lokal, yang tidak hanya berfungsi
sebagai elemen estetis, tetapi juga sebagai representasi identitas budaya dan
kedekatan masyarakat dengan lingkungan laut.
Selain memiliki makna simbolis,
penyu juga berperan dalam pembentukan status sosial dan kebanggaan kolektif
dalam komunitas tertentu. Penyu sering diproyeksikan sebagai simbol kawasan
pesisir atau identitas suatu komunitas, sehingga kehadirannya dalam ritual
adat, cerita asal-usul, maupun simbol budaya menjadi sumber kebanggaan bersama.
Melalui praktik budaya yang berkaitan dengan penyu, baik dalam upacara adat
maupun representasi seni—terbentuk narasi kolektif tentang asal-usul komunitas,
hubungan dengan alam, serta nilai-nilai yang dijunjung bersama. Narasi ini
berperan penting dalam memperkuat kohesi sosial, rasa kebersamaan, dan
identitas budaya masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun.
Hubungan Budaya Tradisional dengan
Konservasi Penyu di Era Modern
Dalam kehidupan masyarakat
tradisional, penyu sejak lama dipandang sebagai makhluk yang punya makna khusus
dan dianggap penting dalam menjaga keseimbangan alam. Nilai budaya yang
menekankan hidup selaras dengan alam ini sebenarnya sejalan dengan upaya konservasi
penyu di masa sekarang. Seiring meningkatnya kesadaran lingkungan dan adanya
aturan perlindungan satwa, pandangan masyarakat terhadap penyu pun mulai
berubah. Penyu tidak lagi hanya dipahami sebagai simbol budaya atau bagian dari
ritual, tetapi juga sebagai hewan yang harus dijaga kelestariannya. Hal ini
terlihat dari keterlibatan masyarakat pesisir dalam kegiatan konservasi,
seperti menjaga sarang penyu, membantu penetasan telur, dan ikut dalam edukasi
lingkungan. Dengan begitu, budaya tradisional bisa menjadi dasar yang kuat
untuk mendukung upaya pelestarian penyu secara berkelanjutan.
Perubahan dan Tantangan antara
Tradisi Budaya dan Perlindungan Penyu
Meskipun budaya tradisional sering
mengajarkan hidup berdampingan dengan alam, dalam praktiknya tidak jarang
muncul konflik antara kebiasaan lama dan aturan perlindungan penyu. Pada masa
lalu, di beberapa daerah penyu dimanfaatkan untuk kebutuhan hidup, seperti
diambil daging atau telurnya, dan hal ini dianggap wajar dalam tradisi
setempat. Namun, ketika jumlah penyu semakin berkurang dan penyu mulai
dilindungi oleh hukum, praktik tersebut harus dihentikan. Kondisi ini membuat
masyarakat perlu menyesuaikan diri dan mengubah cara pandang mereka terhadap
penyu. Tradisi yang sebelumnya melibatkan pemanfaatan langsung mulai bergeser
menjadi bentuk perlindungan dan penghormatan simbolis. Perubahan ini
menunjukkan bahwa budaya tidak bersifat kaku, tetapi bisa menyesuaikan dengan
keadaan, terutama ketika menyangkut kelestarian alam dan keberlanjutan
kehidupan bersama.
Ditulis oleh: Farrel Sulthan S. R., Lilis Fauziah Agustin, Talitha Athaillah Sanjaya
Daftar Pustaka
Cahyani, I. A. F., Cahyana, A.,
& Falah, A. M. (2021). Motif Batik Penyu Sukabumi dan simbolisme
penyu dalam seni budaya lokal.
Hamidah, S., & Samosir, J. V.
(2025). The Symbolism of the Turtle in Nusantara Philosophy and its Relevance
for Local Wisdom-Based Tourism. Digital Press Social Sciences and Humanities,
12, 00012.
Hidayat, A. Z. (2024). Tradisi
Sedekah Laut di Pantai Teluk Penyu sebagai ritual religius & sosial
masyarakat pesisir. Journal of Social Movements.
Kadir, S., & Satria, A. (2019).
Kearifan lokal masyarakat pesisir dalam mendukung konservasi sumber daya laut. Jurnal
Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan, 14(1), 1–12.
Lestari, D., & Handayani, S.
(2018). Peran masyarakat lokal dalam konservasi penyu berbasis kearifan lokal. Jurnal
Ilmu Lingkungan, 16(2), 123–132.
The Symbolism of the Turtle in
Nusantara Philosophy — simbol budaya & nilai lokal dalam tradisi masyarakat
pesisir Indonesia.
Wallace, B. P., et al. (2011).
Global conservation priorities for marine turtles. PLoS ONE, 6(9),
e24510.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar