Sumber dan Jalur Masuk Mikroplastik ke Laut
Mikroplastik adalah fragmen plastik berukuran sangat kecil dengan diameter kurang dari 5 mm yang berasal dari dua sumber utama, yaitu mikroplastik primer dan mikroplastik sekunder. Mikroplastik primer merupakan partikel plastik yang sejak awal diproduksi dalam ukuran kecil, seperti pelet plastik industri, mikrogranula kosmetik, dan bahan abrasif. Sementara itu, mikroplastik sekunder terbentuk akibat fragmentasi plastik berukuran besar melalui proses fisik, kimia, dan biologis, seperti paparan sinar ultraviolet, oksidasi, serta abrasi mekanik oleh gelombang laut (Nelms et al., 2016).
Gambar 1. Mikroplastik (BBC News Indonesia, 2017)
Mikroplastik di laut berasal dari degradasi plastik berukuran besar seperti kantong plastik, botol, dan alat tangkap nelayan, serta dari limbah rumah tangga dan aktivitas industri. Proses degradasi ini dipicu oleh paparan sinar ultraviolet, gelombang laut, dan abrasi mekanik yang memecah plastik menjadi partikel kecil. Mikroplastik kemudian masuk ke lingkungan laut melalui sungai, limpasan darat akibat hujan, serta aktivitas pariwisata pesisir yang menghasilkan sampah plastik dalam jumlah besar (Thompson et al., 2004).
Akumulasi mikroplastik umumnya terjadi di wilayah pesisir sebelum tersebar ke laut terbuka oleh arus laut. Keberadaan mikroplastik ini berdampak langsung terhadap penyu laut karena partikel tersebut mudah tertelan saat penyu mencari makan, terutama ketika mikroplastik menyerupai mangsa alaminya seperti ubur-ubur. Mikroplastik yang tertelan dapat menyebabkan gangguan saluran pencernaan, penurunan asupan nutrisi, serta membawa zat toksik yang berpotensi membahayakan kesehatan dan kelangsungan hidup penyu laut (Schuyler et al, 2014).
Interaksi Penyu Laut dengan Mikroplastik
Penyu laut rentan terhadap paparan mikroplastik terutama akibat perilaku makannya. Beberapa jenis penyu, seperti penyu hijau Chelonia mydas dan penyu belimbing Dermochelys coriacea, memiliki kebiasaan mengkonsumsi organisme lunak seperti ubur-ubur dan zooplankton. Mikroplastik yang mengapung di kolom perairan sering kali menyerupai mangsa alami tersebut, sehingga mudah tertelan secara tidak sengaja saat penyu mencari makan. Berbagai jenis penyu laut dilaporkan rentan terhadap konsumsi mikroplastik, termasuk penyu hijau, penyu sisik Eretmochelys imbricata, dan penyu lekang Lepidochelys olivacea. Kerentanan ini dipengaruhi oleh perbedaan habitat dan jenis pakan yang dikonsumsi, terutama pada wilayah pesisir dan perairan dangkal yang memiliki konsentrasi mikroplastik relatif tinggi (Duncan et al., 2019).
Tahapan hidup penyu juga mempengaruhi tingkat risiko paparan mikroplastik. Penyu pada fase juvenil cenderung lebih rentan dibandingkan individu dewasa karena habitatnya yang berada di perairan permukaan dan pesisir, serta keterbatasan kemampuan dalam menyeleksi makanan. Akumulasi mikroplastik pada tahap awal kehidupan berpotensi menyebabkan gangguan pertumbuhan, kesehatan, dan kelangsungan hidup penyu dalam jangka panjang (Clukey et al., 2017).
Dampak Fisiologis dan Kesehatan Mikroplastik pada Penyu Laut
Mikroplastik yang tertelan oleh penyu laut dapat menyebabkan gangguan pada sistem pencernaan, mulai dari iritasi jaringan hingga penyumbatan saluran cerna. Akumulasi partikel plastik di dalam tubuh penyu berpotensi menimbulkan rasa kenyang semu, yang menghambat proses pencernaan dan penyerapan makanan. Kondisi ini dapat berdampak pada penurunan kondisi fisik dan meningkatkan risiko kematian, terutama pada individu dengan ukuran tubuh lebih kecil (Wright et al., 2013).
Gambar 2. Dampak Mikroplastik pada Penyu Laut (Darilaut.Id, 2018)
Selain mengganggu pencernaan, konsumsi mikroplastik juga menyebabkan penurunan asupan nutrisi. Penyu yang menelan mikroplastik cenderung mengurangi konsumsi makanan alami karena ruang saluran cerna terisi oleh partikel plastik. Akibatnya, energi yang diperoleh tidak mencukupi untuk mendukung pertumbuhan, aktivitas, dan proses fisiologis penting lainnya. Dampak fisiologis mikroplastik juga mencakup penurunan fungsi sistem imun. Akumulasi mikroplastik dan zat toksik yang dibawanya dapat melemahkan respons imun penyu laut, sehingga meningkatkan kerentanan terhadap infeksi bakteri, virus, dan parasit. Penurunan imunitas ini sangat berbahaya bagi penyu yang hidup di lingkungan tercemar atau mengalami stres tambahan akibat perubahan suhu dan degradasi habitat (Pham et al., 2017).
Selain itu, mikroplastik diketahui dapat mengganggu sistem endokrin penyu laut. Mikroplastik sering mengandung atau mengadsorpsi bahan kimia berbahaya seperti bisphenol A (BPA), ftalat, dan polychlorinated biphenyls (PCB) yang bersifat endocrine disrupting chemicals. Paparan senyawa ini dapat mengganggu regulasi hormon, termasuk hormon pertumbuhan, hormon reproduksi, dan hormon metabolik, sehingga berpotensi menyebabkan gangguan perkembangan dan penurunan kesuburan (Jamaika et al., 2023). Mikroplastik juga berpotensi mempengaruhi fungsi organ vital penyu laut. Partikel mikroplastik dapat berpindah dari saluran pencernaan ke organ lain seperti hati, ginjal, dan jaringan otot melalui sistem peredaran darah. Akumulasi mikroplastik di organ-organ tersebut dapat mengganggu fungsi detoksifikasi hati, filtrasi ginjal, serta efisiensi kerja jaringan otot, yang berdampak pada kemampuan berenang dan migrasi penyu laut (Rochman et al., 2013).
Dampak-dampak Mikroplastik tersebut tidak selalu menyebabkan kematian langsung, namun secara bertahap menurunkan kondisi kesehatan, kebugaran, kemampuan migrasi, dan keberhasilan reproduksi penyu laut. Dalam jangka panjang, penurunan kualitas fisiologis individu ini berpotensi mengurangi tingkat kelangsungan hidup populasi penyu laut dan mempercepat penurunan populasinya, sehingga mikroplastik menjadi ancaman tersembunyi yang serius bagi keberlanjutan spesies penyu dan keseimbangan ekosistem laut (Andrady., 2011).
Ditulis Oleh: Aida Sayidatunnisa, Safanja Salsabilla
Daftar Pustaka
Andrady, A. L. (2011). Microplastics in the marine environment. Marine Pollution Bulletin, 62(8), 1596–1605.
BBC News, Indonesia. (2017, 22 November). Bagaimana plastik membunuh berbagai ikan, hewan-hewan laut, juga burung. BBC News Indonesia. Diakses dari https://www.bbc.com/indonesia/majalah-42061728.
Clukey, K. E., Lepczyk, C. A., Balazs, G. H., Work, T. M., & Lynch, J. M. (2017). Investigation of plastic debris ingestion by four species of sea turtles collected as bycatch in pelagic Pacific longline fisheries. Marine Pollution Bulletin, 120(1–2), 117–125.
Darilaut.id. (2018, 14 September). Plastik yang mematikan. Dari Laut. Diakses dari https://darilaut.id/berita/laporan-khusus/plastik-yang-mematikan.
Duncan, E. M., Broderick, A. C., Fuller, W. J., et al. (2019). Microplastic ingestion is ubiquitous in marine turtles. Global Change Biology, 25(2), 744–752.
GESAMP. (2015). Sources, fate and effects of microplastics in the marine environment: A global assessment (Reports and Studies No. 90). IMO.
Jamika, F. I., Dewata, I., Maharani, S., Primasari, B., & Dewilda, Y. (2023). Dampak pencemaran mikroplastik di wilayah pesisir laut. Jurnal Sumberdaya Akuatik Indopasifik, 7(3), 337–344.
Nelms, S. E., Duncan, E. M., Broderick, A. C., et al. (2016). Plastic and marine turtles: A review and call for research. ICES Journal of Marine Science, 73(2), 165–181.
Pham, C. K., Rodríguez, Y., Dauphin, A., Carriço, R., Frias, J. P. G. L., Vandeperre, F., Otero, V., Santos, M. R., Martins, H. R., Bolten, A. B., & Bjorndal, K. A. (2017). Plastic ingestion in oceanic-stage loggerhead sea turtles (Caretta caretta) off the North Atlantic subtropical gyre. Marine Pollution Bulletin, 121(1–2), 222–229. https://doi.org/10.1016/J.MARPOLBUL.2017.06.008.
Rochman, C. M., Hoh, E., Kurobe, T., & Teh, S. J. (2013). Ingested plastic transfers hazardous chemicals to fish and induces hepatic stress. Scientific reports, 3(1), 3263.
Schuyler, Q. A., Hardesty, B. D., Wilcox, C., & Townsend, K. (2014). Global analysis of anthropogenic debris ingestion by sea turtles. Conservation Biology, 28(1), 129–139.
Thompson, R. C., Olsen, Y., Mitchell, R. P., Davis, A., Rowland, S. J., John, A. W., ... & Russell, A. E. (2004). Lost at sea: where is all the plastic?. Science, 304(5672), 838-838.
Wright, S. L., Thompson, R. C., & Galloway, T. S. (2013). The physical impacts of microplastics on marine organisms: A review. Environmental Pollution, 178, 483–492.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar