Rabu, 25 Februari 2026

SURVEY MONITORING PENYU DI PULAU PRAMUKA DAN PULAU KARYA KEPULAUAN SERIBU, JAKARTA

 

    Kegiatan survei dan monitoring penyu di Pulau Pramuka Kepulauan Seribu dilakukan oleh Keisha Alayya Balqis, Hanifah Rifqoh Putri Sanjaya, dan Syifa Putri Azzahra yang dilaksanakan mulai tanggal 27 Juni - 1 Juli 2025. Pemandu lapangan yang mendampingi kami selama survey dan pengambilan data Di Pulau Pramuka adalah Pak Akon. Pak Akon selama ini menjadi sosok sentral dalam upaya konservasi penyu di Pulau Pramuka. Pak Akon merupakan warga lokal Pulau Pramuka yang awalnya berprofesi sebagai nelayan. Sejak tahun 1989, beliau mulai terlibat aktif dalam konservasi penyu setelah mendapat kesempatan belajar bersama NGO asal Jepang. Saat ini, Pak Akon juga bekerja dan mengelola kegiatan di pusat santuari (sanctuary) penyu Pulau Pramuka yang dikelola oleh Taman Nasional Kepulauan Seribu, serta menjadi salah satu dari sedikit orang yang memiliki pengetahuan mendalam mengenai perilaku penyu di Kepulauan Seribu. Dalam setiap kegiatan monitoring, Pak Akon kerap didampingi oleh Pak Ocol, yang masih dalam tahap belajar. Namun hingga saat ini, Pak Akon tetap menjadi satu-satunya pemantau utama yang secara rutin melakukan pengamatan penyu di Pulau Pramuka.


Pola Kemunculan dan Aktivitas Penyu

    Berdasarkan hasil monitoring lapangan, penyu diketahui cenderung naik ke pantai pada hari Selasa, Kamis, dan Sabtu, terutama pada awal bulan Desember. Aktivitas monitoring umumnya dilakukan pada malam hari, yaitu pukul 22.00 hingga 02.00 dini hari, waktu yang dianggap paling efektif untuk meminimalkan gangguan dari aktivitas manusia.

    Selain malam hari, terdapat pula beberapa kejadian penyu yang naik ke pantai pada pukul 06.00–07.00 pagi, yang diduga terjadi karena penyu sudah tidak dapat menahan dorongan untuk bertelur. Dalam praktik lapangan, kehadiran burung pricik sering dijadikan penanda alami bahwa penyu akan naik ke pantai.

    Jenis penyu yang sering muncul di pantai Pulau Pramuka adalah Penyu sisik yang naik untuk bertelur pada bulan Juli hingga September, namun tingkat keberhasilan penelurannya kerap terganggu oleh predasi biawak terhadap telur. Meski demikian, secara umum aktivitas peneluran dan kemunculan penyu di Pulau Pramuka dari tahun ke tahun masih tergolong stabil.


Kondisi Peneluran dan Penanganan Telur

    Dalam penanganan telur penyu, terdapat prinsip penting yang selalu diterapkan oleh pemantau, yaitu telur tidak boleh ditanam dalam kondisi terbalik, karena dapat menghambat perkembangan embrio. Untuk meningkatkan peluang hidup tukik, telur yang menetas biasanya dirawat terlebih dahulu, dan tukik dipelihara selama 2–3 bulan sebelum dilepasliarkan ke laut agar lebih kuat dan mampu beradaptasi. Selama monitoring, juga ditemukan kasus penyu albino berukuran besar yang kemudian dilakukan upaya penyelamatan (rescue), karena berisiko tinggi diburu oleh masyarakat.


Tantangan Konservasi

    Hasil survei menunjukkan bahwa praktik perdagangan telur penyu masih berlangsung, dengan alasan sebagai obat tradisional. Telur penyu tidak hanya berasal dari Pulau Pramuka, tetapi juga didatangkan dari Pulau Kelapa. Selain itu, pernah terjadi kasus penyembelihan penyu yang sedang bertelur dengan berat sekitar 12 kg yang dilakukan ketika malam hari atau dini hari. Banyak kasus bahwa penyu terjerat jaring nelayan sehingga berdampak pada kesehatan penyu bahkan penyu dapat mengalami cacat fisik, sehingga pihak setempat merehabilitasi penyu tersebut si Sentuari Pulau Pramuka. Meskipun kasus tersebut telah dilaporkan, penanganan dari pihak berwenang tidak dilakukan secara cepat.



    Pengambilan penyu diketahui melibatkan laki-laki dan perempuan. Di Pulau Karya, pelaku berasal dari kedua gender. Di Pulau Pramuka sendiri, pelaku didominasi oleh laki-laki. Dibandingkan pulau lain, Pulau Tidung dilaporkan memiliki tingkat pembunuhan penyu yang lebih tinggi.


Temuan Lokasi Spesifik

    Di Pulau Pramuka, tepatnya di lokasi Pantai Sunrise dan Seribu Resort, kami menemukan empat lubang mandi penyu serta jejak penyu, meskipun tidak terlihat terlalu jelas yang berada di Pantai Sunrise. Selain itu, ditemukan juga dua lubang peneluran di Seribu Resort yang kemudian diamankan oleh warga sekitar.


    Sementara itu, di Pulau Karya tidak ditemukan adanya penyu naik, bertelur, lubang peneluran, maupun jejak penyu selama survei dilakukan.


Penutup

    Hasil survei ini menunjukkan bahwa Pulau Pramuka masih memiliki potensi sebagai lokasi peneluran penyu, namun tekanan dari aktivitas manusia dan praktik ilegal menjadi ancaman nyata. Peran sentuari penyu serta keterlibatan individu seperti Pak Akon menjadi elemen penting dalam menjaga keberlangsungan penyu di Kepulauan Seribu. Diperlukannya juga kesadaran masyarakat setempat akan pentingnya penyu bagi kehidupan. Dukungan dari berbagai pihak sangat dibutuhkan juga keterlibatan generasi muda demi kelangsungan konservasi penyu agar upaya konservasi penyu di Pulau Pramuka dapat terus berjalan dan memberikan dampak jangka panjang.

Monitoring Penyu Hijau di Pantai Citireum: Peran Kelandaian dan Vegetasi Pantai dalam Keberhasilan Peneluran

    Pada tanggal 6 – 11 September 2025, Kelompok Studi Penyu Laut “Chelonia” melaksanakan kegiatan monitoring penyu hijau (Chelonia mydas) di Pantai Citireum, Suaka Margasatwa Cikepuh, Sukabumi, Jawa Barat. Kegiatan ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara kelandaian pantai dan vegetasi pesisir terhadap aktivitas peneluran penyu hijau, sekaligus mendukung upaya konservasi pantai peneluran.

Gambar 1. Tim KSPL”Chelonia” dengan Masyarakat Lokal

    Selama tiga hari pengamatan intensif (7 – 9 September 2025), tercatat tujuh individu penyu hijau naik bertelur dengan total 490 butir telur. Aktivitas monitoring dilakukan pada malam hari dengan sistem pos pengamatan untuk meminimalkan gangguan terhadap penyu yang mendarat.
    Hasil pengukuran menunjukkan bahwa kemiringan Pantai Citireum sebesar 3,72°, yang termasuk kategori landai. Kondisi ini sangat mendukung mobilitas induk penyu yang berukuran besar saat naik ke daratan, serta membantu mencegah risiko genangan air laut pada sarang yang menyebabkan pembusukan pada telur.

Gambar 2. Proses Monitoring Penyu Laut

    Selain itu, vegetasi pantai seperti pandan laut (Pandanus tectorius), biduri (Calotropis procera), dan bakung (Crinum asiaticum) berperan penting untuk menjaga suhu dan kelembapan pasir, mengurangi risiko erosi, serta memberikan rasa aman bagi induk penyu saat bertelur. Kombinasi antara kelandaian pantai yang ideal dan vegetasi pelindung menjadikan Pantai Citireum sebagai pantai peneluran yang optimal bagi keberlangsungan penyu hijau bertelur.
     Kegiatan monitoring ini tidak hanya menjadi bentuk kontribusi akademik, tetapi juga wujud nyata kepedulian mahasiswa terhadap konservasi satwa laut yang terancam. Upaya perlindungan habitat peneluran seperti di Pantai Citireum menjadi langkah penting dalam menjaga keberlanjutan populasi penyu hijau di Indonesia.
    Melalui kegiatan ini, kami mengajak masyarakat dan mahasiswa untuk turut berperan aktif dalam menjaga kelestarian pantai dan ekosistem laut. Konservasi tidak hanya menjadi tanggung jawab lembaga atau peneliti, tetapi juga membutuhkan kesadaran bersama untuk mengurangi sampah, menjaga vegetasi pesisir, serta mendukung perlindungan satwa liar seperti penyu hijau. Dengan kepedulian dan tindakan sederhana yang konsisten, kita dapat ikut memastikan bahwa pantai-pantai Indonesia tetap menjadi rumah yang aman bagi generasi penyu berikutnya.

 

#KonservasiPenyu #PenyuHijau #SaveTheTurtles #BersamaJagaAlam #ProtectOurOcean 

Selasa, 24 Februari 2026

Perspektif Budaya Tentang Penyu dalam Kehidupan Komunitas radisional

 Simbolisme penyu

Penyu merupakan salah satu satwa peninggalan dari zaman purba 110 juta tahun silam yang berhasil melewati zaman purba dan sampai saat ini masih terdapat di dunia termasuk juga di wilayah Indonesia. Keberlangsungan hidup penyu dalam rentang waktu yang sangat panjang menunjukkan kemampuan adaptasi yang luar biasa, menjadikannya simbol ketahanan dan kesinambungan kehidupan. Penyu dalam berbagai tradisi budaya, khususnya dalam filsafat Nusantara, dimaknai sebagai simbol umur panjang, ketahanan dan kesabaran, serta keseimbangan alam.

Gambar 1. Monitoring Penyu Laut (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

  1. Umur panjang

Umur panjang penyu, yang seringkali hidup selama beberapa dekade, melambangkan kehidupan yang panjang dan sejahtera. Karakteristik ini tercermin dalam berbagai legenda dan praktik budaya yang memaknai penyu sebagai pengingat pentingnya menjalani kehidupan secara tenang, penuh pertimbangan, dan tidak tergesa-gesa, melainkan mengikuti ritme yang bijaksana.

  1. Ketahanan dan kesabaran

Sifat penyu yang lambat dan tenang dipandang sebagai metafora untuk menghadapi tantangan dan bertahan melalui kesulitan, mencerminkan keyakinan yang mendalam bahwa kekuatan sejati terletak bukan pada tergesa-gesa tetapi pada kemampuan untuk melewati cobaan hidup dengan anggun dan tenang. Simbolisme tersebut menegaskan nilai kesabaran sebagai kebajikan utama yang sejalan dengan nilai-nilai tradisional Nusantara,  di mana keharmonisan komunal dan penghormatan terhadap ritme alam sangatlah penting.

  1. Keseimbangan

Kemampuan penyu untuk hidup di dua lingkungan yaitu darat dan laut, menjadikannya simbol keseimbangan dan harmoni dalam alam semesta. Dualitas ini dimaknai sebagai pengingat akan pentingnya menjaga keselarasan antara manusia, alam, dan tatanan kosmos agar keberlanjutan kehidupan tetap terjaga.

 

Peran Penyu dalam Kehidupan Sosial dan Budaya

  1. Penyu dalam ritual adat, upacara keagamaan, dan tradisi

Di komunitas pesisir seperti di Pantai Teluk Penyu Cilacap, tradisi sedekah laut adalah ritual tahunan yang biasa dilakukan para nelayan sebagai wujud rasa syukur atas rezeki dari laut sekaligus permohonan agar selalu diberi keselamatan saat melaut. Kegiatan ini biasanya diisi dengan doa bersama, arak-arakan, lalu melarung sesajen ke laut yang dipercaya bisa membawa berkah, rasa aman, serta menjaga hubungan harmonis antara manusia, alam, dan kekuatan gaib penguasa laut. Tradisi ini sudah diwariskan turun-temurun dan masih dijaga sampai sekarang. Selain punya makna religius, sedekah laut juga punya fungsi sosial yang kuat karena melibatkan banyak orang, sehingga bisa mempererat kebersamaan, rasa solidaritas, dan kekompakan antar anggota masyarakat pesisir.

  1. Makna Penyu dalam Struktur Sosial: Status, Identitas & Kebanggaan Budaya

Dalam budaya tradisional, penyu tidak hanya dipandang sebagai hewan laut, tetapi juga sebagai simbol yang memiliki makna filosofis yang mendalam. Dalam konteks budaya Nusantara, penyu melambangkan ketahanan, kesabaran, umur panjang, serta keseimbangan alam, yang mencerminkan nilai-nilai sosial yang dijunjung tinggi oleh masyarakat dalam menjalani kehidupan bersama dan menjaga hubungan yang harmonis antara manusia, alam, dan leluhur. Makna simbolis ini kemudian diwujudkan dalam berbagai ekspresi budaya, seperti cerita rakyat, praktik adat, serta karya seni tradisional. Bentuk penyu juga kerap digunakan sebagai motif dalam seni dan kerajinan, misalnya pada batik atau ornamen lokal, yang tidak hanya berfungsi sebagai elemen estetis, tetapi juga sebagai representasi identitas budaya dan kedekatan masyarakat dengan lingkungan laut.

Selain memiliki makna simbolis, penyu juga berperan dalam pembentukan status sosial dan kebanggaan kolektif dalam komunitas tertentu. Penyu sering diproyeksikan sebagai simbol kawasan pesisir atau identitas suatu komunitas, sehingga kehadirannya dalam ritual adat, cerita asal-usul, maupun simbol budaya menjadi sumber kebanggaan bersama. Melalui praktik budaya yang berkaitan dengan penyu, baik dalam upacara adat maupun representasi seni—terbentuk narasi kolektif tentang asal-usul komunitas, hubungan dengan alam, serta nilai-nilai yang dijunjung bersama. Narasi ini berperan penting dalam memperkuat kohesi sosial, rasa kebersamaan, dan identitas budaya masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun.

 

Hubungan Budaya Tradisional dengan Konservasi Penyu di Era Modern

Dalam kehidupan masyarakat tradisional, penyu sejak lama dipandang sebagai makhluk yang punya makna khusus dan dianggap penting dalam menjaga keseimbangan alam. Nilai budaya yang menekankan hidup selaras dengan alam ini sebenarnya sejalan dengan upaya konservasi penyu di masa sekarang. Seiring meningkatnya kesadaran lingkungan dan adanya aturan perlindungan satwa, pandangan masyarakat terhadap penyu pun mulai berubah. Penyu tidak lagi hanya dipahami sebagai simbol budaya atau bagian dari ritual, tetapi juga sebagai hewan yang harus dijaga kelestariannya. Hal ini terlihat dari keterlibatan masyarakat pesisir dalam kegiatan konservasi, seperti menjaga sarang penyu, membantu penetasan telur, dan ikut dalam edukasi lingkungan. Dengan begitu, budaya tradisional bisa menjadi dasar yang kuat untuk mendukung upaya pelestarian penyu secara berkelanjutan.

 

Perubahan dan Tantangan antara Tradisi Budaya dan Perlindungan Penyu

Meskipun budaya tradisional sering mengajarkan hidup berdampingan dengan alam, dalam praktiknya tidak jarang muncul konflik antara kebiasaan lama dan aturan perlindungan penyu. Pada masa lalu, di beberapa daerah penyu dimanfaatkan untuk kebutuhan hidup, seperti diambil daging atau telurnya, dan hal ini dianggap wajar dalam tradisi setempat. Namun, ketika jumlah penyu semakin berkurang dan penyu mulai dilindungi oleh hukum, praktik tersebut harus dihentikan. Kondisi ini membuat masyarakat perlu menyesuaikan diri dan mengubah cara pandang mereka terhadap penyu. Tradisi yang sebelumnya melibatkan pemanfaatan langsung mulai bergeser menjadi bentuk perlindungan dan penghormatan simbolis. Perubahan ini menunjukkan bahwa budaya tidak bersifat kaku, tetapi bisa menyesuaikan dengan keadaan, terutama ketika menyangkut kelestarian alam dan keberlanjutan kehidupan bersama.

 

 

Ditulis oleh: Farrel Sulthan S. R., Lilis Fauziah Agustin, Talitha Athaillah Sanjaya


Daftar Pustaka

Cahyani, I. A. F., Cahyana, A., & Falah, A. M. (2021). Motif Batik Penyu Sukabumi dan simbolisme penyu dalam seni budaya lokal.

Hamidah, S., & Samosir, J. V. (2025). The Symbolism of the Turtle in Nusantara Philosophy and its Relevance for Local Wisdom-Based Tourism. Digital Press Social Sciences and Humanities, 12, 00012.

Hidayat, A. Z. (2024). Tradisi Sedekah Laut di Pantai Teluk Penyu sebagai ritual religius & sosial masyarakat pesisir. Journal of Social Movements.

Kadir, S., & Satria, A. (2019). Kearifan lokal masyarakat pesisir dalam mendukung konservasi sumber daya laut. Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan, 14(1), 1–12.

Lestari, D., & Handayani, S. (2018). Peran masyarakat lokal dalam konservasi penyu berbasis kearifan lokal. Jurnal Ilmu Lingkungan, 16(2), 123–132.

The Symbolism of the Turtle in Nusantara Philosophy — simbol budaya & nilai lokal dalam tradisi masyarakat pesisir Indonesia.

Wallace, B. P., et al. (2011). Global conservation priorities for marine turtles. PLoS ONE, 6(9), e24510.


Jejak Digital Penyu Melalui Pemanfaatan Teknologi Tracking dalam Memantau Migrasi Chelonia mydas

 

Gambar 1. Penyu laut dengan transmitter (Paladino & Morreale, 2001)

Penyu hijau (Chelonia mydas) adalah spesies migratori laut yang melakukan perjalanan jarak jauh antara habitat foraging (pencarian makanan), area inter-nesting (istirahat antar-bertelur), dan situs bertelur, sering kali melintasi ribuan kilometer (Tanabe et al., 2023; Al-Mansi et al., 2021). Migrasi ini dipengaruhi oleh faktor biologis seperti jenis kelamin dan tahap hidup, serta faktor lingkungan seperti arus laut dan suhu (Beal et al., 2022; Barbour et al., 2023). Pemahaman mendalam tentang pola migrasi ini sangat penting untuk konservasi, karena membantu mengidentifikasi habitat kritis dan ancaman antropogenik seperti degradasi habitat atau interaksi dengan perikanan (Robinson et al., 2017; Sudrajat et al., 2023).

Teknologi tracking satelit merupakan metode utama untuk memantau migrasi penyu secara akurat dan real-time tanpa mengganggu perilaku alami mereka (Tapilatu et al., 2022; Tanabe et al., 2023). Teknologi ini bekerja dengan memasang transmitter satelit (Platform Transmitter Terminal atau PTT) pada karapas (cangkang) penyu menggunakan resin fiberglass atau epoksi khusus yang aman dan minim drag (Al-Mansi et al., 2021; Barbour et al., 2023). Transmitter ini dilengkapi dengan saltwater switch yang mengaktifkan transmisi hanya saat penyu muncul ke permukaan untuk bernapas, karena gelombang radio tidak menembus air laut (Tanabe et al., 2023). Data dikirim ke satelit Argos atau dikombinasikan dengan Fastloc-GPS untuk akurasi tinggi (sering <50 meter), sehingga peneliti bisa merekam tidak hanya rute migrasi, tetapi juga kedalaman menyelam, suhu air, dan pola penggunaan habitat (Barbour et al., 2023; Al-Mansi et al., 2021).

Penyu dewasa betina biasanya melakukan migrasi pasca-bertelur yang jauh lebih panjang dibandingkan jantan, dengan jarak rata-rata mencapai lebih dari 1.000 km pada beberapa individu, sementara jantan cenderung bermigrasi lebih pendek meskipun habitat foraging sering tumpang tindih (Beal et al., 2022). Selama periode inter-nesting, pergerakan relatif terbatas di perairan dangkal dekat pantai bertelur, dengan luas area jelajah maksimum sekitar 161 km² (Tanabe et al., 2023). Penyu juga menunjukkan kemampuan navigasi luar biasa: mereka sering berenang melawan arus untuk mempertahankan arah yang diinginkan, dan persistensi berenang meningkat saat mendekati wilayah pantai atau menjelang akhir perjalanan (Barbour et al., 2023).

Teknologi tracking juga berhasil diterapkan pada penyu remaja yang dibesarkan di penangkaran (head-started) sebelum dilepasliarkan, serta pada penyu yang telah direhabilitasi setelah mengalami cedera serius. Penyu-penyu ini mampu beradaptasi kembali ke alam liar dan bahkan melakukan perjalanan jarak sangat jauh, membuktikan bahwa upaya reintroduksi dapat berhasil jika timing dan lokasi pelepasan tepat (Robinson et al., 2017; Barbour et al., 2023). Di habitat foraging, penyu cenderung memilih perairan dangkal dengan vegetasi laut melimpah, sementara degradasi pantai dapat menyebabkan penurunan drastis jumlah penyu yang berhasil bertelur (Dharmadi & Wiadnyana, 2008; Romiyansah et al., 2024).

Jejak digital yang dihasilkan teknologi tracking satelit tidak hanya mengungkap pola migrasi secara mendetail, tetapi juga menjadi dasar strategi konservasi yang lebih tepat sasaran. Data ini mendukung pembentukan kawasan lindung kecil namun strategis di area inter-nesting, identifikasi koridor migrasi lintas negara, dan analisis kekuatan serta peluang pelestarian berbasis bukti (Sudrajat et al., 2023; Tanabe et al., 2023; Al-Mansi et al., 2021).

 

Ditulis Oleh: Amanda Jasmine dan Syifa Putri Azzahra


Daftar Pustaka

Paladino, F. V., & Morreale, S. J. (2001). Sea Turtles. Encyclopedia of Ocean Sciences: Second Edition, 212–219. https://doi.org/10.1016/B978-012374473-9.00443-4

 Al-Mansi, A. M., et al. (2021). Satellite tracking of post-nesting green sea turtles (Chelonia mydas) from Ras Baridi, Red Sea. Frontiers in Marine Science, 8, 758592. https://doi.org/10.3389/fmars.2021.758592

Barbour, N., et al. (2023). Satellite tracking of head-started juvenile green turtles (Chelonia mydas) reveals release effects and an ontogenetic shift. Animals, 13(7), 1218. https://doi.org/10.3390/ani13071218

Beal, M., et al. (2022). Satellite tracking reveals sex-specific migration distance in green turtles (Chelonia mydas). Biology Letters, 18(10), 20220325. https://doi.org/10.1098/rsbl.2022.0325

Dharmadi, & Wiadnyana, N. N. (2008). Kondisi habitat dan kaitannya dengan jumlah penyu hijau (Chelonia mydas) yang bersarang di Pulau Derawan, Berau-Kalimantan Timur. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia, 14(3), 195–204.

Robinson, D. P., et al. (2017). Satellite tagging of rehabilitated green sea turtles Chelonia mydas from the United Arab Emirates, including the longest tracked journey for the species. PLOS ONE, 12(9), e0184286. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0184286

Romiyansah, et al. (2024). Sebaran sarang penyu hijau (Chelonia mydas) di Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (KKP3K) Paloh Desa Sebubus Kabupaten Sambas. Oseanologia, 3(2), 44–59.

Sudrajat, I., et al. (2023). Strategi pelestarian penyu hijau (Chelonia mydas) di Suaka Margasatwa Sindangkerta, Tasikmalaya. Jurnal Ilmiah Satya Minabahari, 8(2), 43–55. https://doi.org/10.53676/jism.v8i2.166

Tanabe, L. K., et al. (2023). Inter-nesting, migration, and foraging behaviors of green turtles (Chelonia mydas) in the central-southern Red Sea. Scientific Reports, 13, 11322. https://doi.org/10.1038/s41598-023-37942-z

Tapilatu, R. F., et al. (2022). Foraging habitat characterization of green sea turtles, Chelonia mydas, in the Cenderawasih Bay, Papua, Indonesia: Insights from satellite tag tracking and seagrass survey. Biodiversitas, 23(6), 2783–2789. https://doi.org/10.13057/biodiv/d230601

 

 

Senin, 23 Februari 2026

Dampak Mikroplastik Terhadap Penyu Laut Sebagai Ancaman Tersembunyi di Lautan

            Kerusakan kawasan pantai terjadi akibat penumpukan material alami maupun aktivitas manusia di wilayah pesisir dan berlangsung di sepanjang garis pantai di berbagai belahan dunia. Beragam jenis material dapat dijumpai di kawasan pantai, mulai dari makrofita laut dan sisa kayu hingga limbah hasil aktivitas manusia, seperti kemasan sekali pakai dan alat tangkap ikan berbahan plastik. Ketika bahan plastik memasuki lingkungan laut, mereka menjadi ancaman bagi kehidupan laut. Mikroplastik merupakan partikel plastik berukuran sangat kecil, umumnya kurang dari 5 mm, yang berasal dari degradasi plastik berukuran besar maupun dari produk plastik primer seperti pelet industri dan bahan abrasif. Partikel ini bersifat persisten di lingkungan laut karena sulit terurai secara alami, sehingga dapat bertahan dalam jangka waktu lama dan tersebar luas di perairan. Keberadaan mikroplastik di laut menjadi perhatian serius karena mudah tertelan oleh organisme laut, termasuk penyu, dan berpotensi menimbulkan dampak ekologis yang signifikan (Gesamp, 2015).
  1. Sumber dan Jalur Masuk Mikroplastik ke Laut

Mikroplastik adalah fragmen plastik berukuran sangat kecil dengan diameter kurang dari 5 mm yang berasal dari dua sumber utama, yaitu mikroplastik primer dan mikroplastik sekunder. Mikroplastik primer merupakan partikel plastik yang sejak awal diproduksi dalam ukuran kecil, seperti pelet plastik industri, mikrogranula kosmetik, dan bahan abrasif. Sementara itu, mikroplastik sekunder terbentuk akibat fragmentasi plastik berukuran besar melalui proses fisik, kimia, dan biologis, seperti paparan sinar ultraviolet, oksidasi, serta abrasi mekanik oleh gelombang laut (Nelms et al., 2016).


Gambar 1. Mikroplastik (BBC News Indonesia, 2017)

Mikroplastik di laut berasal dari degradasi plastik berukuran besar seperti kantong plastik, botol, dan alat tangkap nelayan, serta dari limbah rumah tangga dan aktivitas industri. Proses degradasi ini dipicu oleh paparan sinar ultraviolet, gelombang laut, dan abrasi mekanik yang memecah plastik menjadi partikel kecil. Mikroplastik kemudian masuk ke lingkungan laut melalui sungai, limpasan darat akibat hujan, serta aktivitas pariwisata pesisir yang menghasilkan sampah plastik dalam jumlah besar (Thompson et al., 2004).

Akumulasi mikroplastik umumnya terjadi di wilayah pesisir sebelum tersebar ke laut terbuka oleh arus laut. Keberadaan mikroplastik ini berdampak langsung terhadap penyu laut karena partikel tersebut mudah tertelan saat penyu mencari makan, terutama ketika mikroplastik menyerupai mangsa alaminya seperti ubur-ubur. Mikroplastik yang tertelan dapat menyebabkan gangguan saluran pencernaan, penurunan asupan nutrisi, serta membawa zat toksik yang berpotensi membahayakan kesehatan dan kelangsungan hidup penyu laut (Schuyler et al, 2014).


  1. Interaksi Penyu Laut dengan Mikroplastik

Penyu laut rentan terhadap paparan mikroplastik terutama akibat perilaku makannya. Beberapa jenis penyu, seperti penyu hijau Chelonia mydas dan penyu belimbing Dermochelys coriacea, memiliki kebiasaan mengkonsumsi organisme lunak seperti ubur-ubur dan zooplankton. Mikroplastik yang mengapung di kolom perairan sering kali menyerupai mangsa alami tersebut, sehingga mudah tertelan secara tidak sengaja saat penyu mencari makan. Berbagai jenis penyu laut dilaporkan rentan terhadap konsumsi mikroplastik, termasuk penyu hijau, penyu sisik Eretmochelys imbricata, dan penyu lekang Lepidochelys olivacea. Kerentanan ini dipengaruhi oleh perbedaan habitat dan jenis pakan yang dikonsumsi, terutama pada wilayah pesisir dan perairan dangkal yang memiliki konsentrasi mikroplastik relatif tinggi (Duncan et al., 2019).

Tahapan hidup penyu juga mempengaruhi tingkat risiko paparan mikroplastik. Penyu pada fase juvenil cenderung lebih rentan dibandingkan individu dewasa karena habitatnya yang berada di perairan permukaan dan pesisir, serta keterbatasan kemampuan dalam menyeleksi makanan. Akumulasi mikroplastik pada tahap awal kehidupan berpotensi menyebabkan gangguan pertumbuhan, kesehatan, dan kelangsungan hidup penyu dalam jangka panjang (Clukey et al., 2017).


  1. Dampak Fisiologis dan Kesehatan Mikroplastik pada Penyu Laut

Mikroplastik yang tertelan oleh penyu laut dapat menyebabkan gangguan pada sistem pencernaan, mulai dari iritasi jaringan hingga penyumbatan saluran cerna. Akumulasi partikel plastik di dalam tubuh penyu berpotensi menimbulkan rasa kenyang semu, yang menghambat proses pencernaan dan penyerapan makanan. Kondisi ini dapat berdampak pada penurunan kondisi fisik dan meningkatkan risiko kematian, terutama pada individu dengan ukuran tubuh lebih kecil (Wright et al., 2013).

Gambar 2. Dampak Mikroplastik pada Penyu Laut (Darilaut.Id, 2018) 


Selain mengganggu pencernaan, konsumsi mikroplastik juga menyebabkan penurunan asupan nutrisi. Penyu yang menelan mikroplastik cenderung mengurangi konsumsi makanan alami karena ruang saluran cerna terisi oleh partikel plastik. Akibatnya, energi yang diperoleh tidak mencukupi untuk mendukung pertumbuhan, aktivitas, dan proses fisiologis penting lainnya. Dampak fisiologis mikroplastik juga mencakup penurunan fungsi sistem imun. Akumulasi mikroplastik dan zat toksik yang dibawanya dapat melemahkan respons imun penyu laut, sehingga meningkatkan kerentanan terhadap infeksi bakteri, virus, dan parasit. Penurunan imunitas ini sangat berbahaya bagi penyu yang hidup di lingkungan tercemar atau mengalami stres tambahan akibat perubahan suhu dan degradasi habitat (Pham et al., 2017).

Selain itu, mikroplastik diketahui dapat mengganggu sistem endokrin penyu laut. Mikroplastik sering mengandung atau mengadsorpsi bahan kimia berbahaya seperti bisphenol A (BPA), ftalat, dan polychlorinated biphenyls (PCB) yang bersifat endocrine disrupting chemicals. Paparan senyawa ini dapat mengganggu regulasi hormon, termasuk hormon pertumbuhan, hormon reproduksi, dan hormon metabolik, sehingga berpotensi menyebabkan gangguan perkembangan dan penurunan kesuburan (Jamaika et al., 2023). Mikroplastik juga berpotensi mempengaruhi fungsi organ vital penyu laut. Partikel mikroplastik dapat berpindah dari saluran pencernaan ke organ lain seperti hati, ginjal, dan jaringan otot melalui sistem peredaran darah. Akumulasi mikroplastik di organ-organ tersebut dapat mengganggu fungsi detoksifikasi hati, filtrasi ginjal, serta efisiensi kerja jaringan otot, yang berdampak pada kemampuan berenang dan migrasi penyu laut (Rochman et al., 2013). 

Dampak-dampak Mikroplastik tersebut tidak selalu menyebabkan kematian langsung, namun secara bertahap menurunkan kondisi kesehatan, kebugaran, kemampuan migrasi, dan keberhasilan reproduksi penyu laut. Dalam jangka panjang, penurunan kualitas fisiologis individu ini berpotensi mengurangi tingkat kelangsungan hidup populasi penyu laut dan mempercepat penurunan populasinya, sehingga mikroplastik menjadi ancaman tersembunyi yang serius bagi keberlanjutan spesies penyu dan keseimbangan ekosistem laut (Andrady., 2011).



Ditulis Oleh: Aida Sayidatunnisa, Safanja Salsabilla

Daftar Pustaka


Andrady, A. L. (2011). Microplastics in the marine environment. Marine Pollution Bulletin, 62(8), 1596–1605.

BBC News, Indonesia. (2017, 22 November). Bagaimana plastik membunuh berbagai ikan, hewan-hewan laut, juga burung. BBC News Indonesia. Diakses dari https://www.bbc.com/indonesia/majalah-42061728.

Clukey, K. E., Lepczyk, C. A., Balazs, G. H., Work, T. M., & Lynch, J. M. (2017). Investigation of plastic debris ingestion by four species of sea turtles collected as bycatch in pelagic Pacific longline fisheries. Marine Pollution Bulletin, 120(1–2), 117–125.

Darilaut.id. (2018, 14 September). Plastik yang mematikan. Dari Laut. Diakses dari https://darilaut.id/berita/laporan-khusus/plastik-yang-mematikan.

Duncan, E. M., Broderick, A. C., Fuller, W. J., et al. (2019). Microplastic ingestion is ubiquitous in marine turtles. Global Change Biology, 25(2), 744–752.

GESAMP. (2015). Sources, fate and effects of microplastics in the marine environment: A global assessment (Reports and Studies No. 90). IMO.

Jamika, F. I., Dewata, I., Maharani, S., Primasari, B., & Dewilda, Y. (2023). Dampak pencemaran mikroplastik di wilayah pesisir laut. Jurnal Sumberdaya Akuatik Indopasifik, 7(3), 337–344.

Nelms, S. E., Duncan, E. M., Broderick, A. C., et al. (2016). Plastic and marine turtles: A review and call for research. ICES Journal of Marine Science, 73(2), 165–181.

Pham, C. K., Rodríguez, Y., Dauphin, A., Carriço, R., Frias, J. P. G. L., Vandeperre, F., Otero, V., Santos, M. R., Martins, H. R., Bolten, A. B., & Bjorndal, K. A. (2017). Plastic ingestion in oceanic-stage loggerhead sea turtles (Caretta caretta) off the North Atlantic subtropical gyre. Marine Pollution Bulletin, 121(1–2), 222–229. https://doi.org/10.1016/J.MARPOLBUL.2017.06.008. 

Rochman, C. M., Hoh, E., Kurobe, T., & Teh, S. J. (2013). Ingested plastic transfers hazardous chemicals to fish and induces hepatic stress. Scientific reports, 3(1), 3263.

Schuyler, Q. A., Hardesty, B. D., Wilcox, C., & Townsend, K. (2014). Global analysis of anthropogenic debris ingestion by sea turtles. Conservation Biology, 28(1), 129–139. 

Thompson, R. C., Olsen, Y., Mitchell, R. P., Davis, A., Rowland, S. J., John, A. W., ... & Russell, A. E. (2004). Lost at sea: where is all the plastic?. Science, 304(5672), 838-838.

Wright, S. L., Thompson, R. C., & Galloway, T. S. (2013). The physical impacts of microplastics on marine organisms: A review. Environmental Pollution, 178, 483–492.